Thought via Path

Vampir

By Intan Paramaditha

Menu Cari

« Sebelumnya Berikutnya »

Kumpulan Cerpen Kompas arsip cerita pendek kompas minggu

Tinggalkan Balasan Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruasyang wajib ditandai *

Kirim Komentar Kirim Komentar

Beritahu saya balasan komentar lewat surat

elektronik.

Beritahu saya tulisan baru lewat surat elektronik.

Cari

Berlangganan via Email

Bergabunglah dengan 2.211 pengikut lainnya.

Daftar

Halaman

About

Penulis Populer

Aba Mardjani Adek AlwiAgus NoorArieMPTamba Arswendo Atmowiloto

Avianti Armand Beni Setia BennyArnas Bre Redana Budi Darma Dadang Ari Murtono Damhuri Muhammad Danarto Djenar Maesa Ayu

Dwicipta Eep Saefulloh Fatah Eka KurniawanFakhrunnas MA Jabbar Farizal Sikumbang F Rahardi Fransisca Dewi Ria UtariGde Aryantha Soethama GM Sudarta

Guntur Alam Gus tf Sakai

Hamsad Rangkuti Harris Effendi Thahar Hasan Al BannaIndra TranggonoIntanParamaditha Isbedy Stiawan ZSIyut Fitra Jakob Sumardjo Jujur

Prananto Kuntowijoyo Kurnia Effendi K Usman Lie Charlie Mahwi Air Tawar Mardi Luhung Martin AleidaMashdarZainal M

Dawam Rahardjo Moh Wan Anwar Mustafa

Ismail Nh Dini Ni Komang Ariani Noviana KusumawardhaniNukilaAmal Palti R

Tamba Pamusuk Eneste Puthut EA

Putu Fajar Arcana PutuWijaya Radhar

PancaDahana Rama Dira J Ratih Kumala Ratna Indraswari Ibrahim

Reda Gaudiamo Rieke Diah Pitaloka Seno Gumira AjidarmaSoeprijadi

TomodihardjoSori SiregarS Prasetyo UtomoSunaryono

Basuki Ks Sungging Raga Timbul

Nadeak Toni Lesmana Triyanto TriwikromoUgoranPrasad Veven

Sp Wardhana Wayan Sunarta Wilson NadeakYanusa NugrohoYusrizalKW

Arsip

Agustus 2012 Juli 2012 Juni 2012 Mei 2012 April 2012 Maret 2012 Februari 2012 Januari 2012 Desember 2011 November 2011 Oktober 2011 September 2011 Agustus 2011 Juli 2011 Juni 2011 Mei 2011 April 2011 Maret 2011 Februari 2011 Januari 2011 Desember 2010 November 2010 Oktober 2010 September 2010 Agustus 2010 Juli 2010 Juni 2010 Mei 2010 April 2010 Maret 2010 Februari 2010 Januari 2010 Desember 2009 November 2009 Oktober 2009 September 2009 Agustus 2009 Juli 2009 Juni 2009 Mei 2009 April 2009 Maret 2009 Februari 2009 Januari 2009 Desember 2008 November 2008 Oktober 2008 September 2008 Agustus 2008 Juli 2008 Juni 2008 Mei 2008 April 2008 Maret 2008 Februari 2008 Januari 2008 Desember 2007 November 2007 Oktober 2007 September 2007 Agustus 2007 Juli 2007 Juni 2007 Mei 2007 April 2007 Maret 2007 Februari 2007 Januari 2007 Desember 2006 November 2006 Oktober 2006 September 2006 Agustus 2006 Juli 2006 Juni 2006 Mei 2006 April 2006 Maret 2006 Februari 2006 Januari 2006 Desember 2005 November 2005 Oktober 2005 September 2005 Agustus 2005 Juli 2005 Juni 2005 Mei 2005 April 2005 Maret 2005 Februari 2005 Januari 2005 Desember 2004 November 2004 Oktober 2004 September 2004 Agustus 2004 Juli 2004 Juni 2004 Mei 2004 April 2004 Maret 2004 Februari 2004 Januari 2004 Desember 2003 November 2003 Oktober 2003 September 2003 Agustus 2003 Juli 2003 Juni 2003 Mei 2003 April 2003

View Full Site

Now Available! Download WordPress for Android

Blog pada WordPress.com.

Share Share 0

Like this:

18 Juli 2004 2 Balasan

Vampir

Bacalah ia dari belakang dan kau akan menemukan aku.

Kami datang dari tempat yang sama, sempit, gelap, basah, merah. Tapi ia tak menginginkanku karena ia kira aku menyusu ibu serigala.

Sebenarnya dulu aku tak pernah bercita-cita menjadi sekretaris. Jika ditanya apa cita-citaku semasa kecil, aku selalu mengatakan ingin jadi dokter, seperti juga ribuan anak kecil lainnya. Tapi saat aku tumbuh dewasa, ibuku mengamati sifatku yang rajin dan serba teratur. Aku suka membuat daftar pelajaran, anggaran uang jajan, atau daftar belanja. Aku tergila-gila pada pengelompokan. Di kamarku ada kotak-kotak khusus untuk kaset dengan aliran musik berbeda. Aku bahkan tahu baju apa yang akan kupakai hari Jumat dua minggu mendatang. Kata Ibu, “Kau lebih cocok jadi sekretaris ketimbang dokter.”

Selepas sekolah menengah aku pun masuk Akademi Sekretaris. Separuh alasanku adalah ingin memaksimalkan potensiku, separuhnya lagi adalah karena untuk menjadi dokter aku harus menyukai biologi, sedangkan satu-satunya yang kusukai dari pelajaran itu adalah klasifikasi tumbuhan dan binatang. Lagi-lagi pengelompokan dan keteraturan. Pada akhirnya kusadari pilihanku belajar di Akademi Sekretaris tidak salah karena aku lulus dengan nilai-nilai gemilang.

Aku hidup di gua-gua pekat malam, terselimuti kabut abu-abu, tak kenal pagi dan embun. Aku tak berani menantang cahaya karena aku tak seperti kalian semua. Aku terobsesi merah. Merah yang tergenang menganak sungai beraroma ikan segar.

Aku haus darah.

Aku kupu-kupu hitam bersayap beludru, terbang ke dalam lorong-lorong dan terseret dengan pusaran malam. Ia tak tahu penderitaanku, eranganku, gairahku. Ia menutup semua jendela untuk mengusirku yang terseok kehausan.

Kini aku bekerja di sebuah perusahaan jasa konsultan. Aku selalu menyetrika jas kerja dan rokku licin-licin agar terlihat serasi dengan sejuknya lantai mahogani kantorku dan dindingnya yang bernuansa cokelat susu. Cokelat adalah warna klasik yang selalu terlihat elegan. Ingin terlihat lebih profesional? Pakailah cokelat atau hitam. Lucu, dulu kupikir warna gelap hanya untuk kekuatan jahat dan warna terang untuk kebaikan.

Kadang aku mencari tikus atau anjing atau apa saja. Aku terlalu lemah untuk membuka mata. Tak bisa bertahan, aku begitu haus. Ah, andai aku bisa menukar jiwaku dengan

Darah!

Jabatanku di sini adalah sekretaris manajer pemasaran. Meja kerjaku tertata rapi tepat di luar ruangan bosku. Namanya Irwan. Ia muda, tampan, kaya, cerdas. Tentu saja ada satu kelemahannya: beristri. Baginya ini kelemahan karena ia harus mati-matian menutupi hubungannya dengan beberapa perempuan (setidaknya begitu yang kudengar di hari pertamaku bekerja). Bagiku ini juga kelemahan karena aku harus berusaha menjaga jarak mengingat intensitas interaksiku setiap hari dengannya yang mungkin bisa menjerumuskan. Aku pernah mendengar tentang perilaku seks di dunia kerja, tapi aku tidak pernah berselera melanggar kode etik dan norma-norma.

Irwan terlahir dari keluarga kaya dan ini membuatku memaklumi sikapnya yang senang bermain-main dengan kekuasaan. Ia sering memberiku tugas di luar yang seharusnya, seperti memintaku membuat surat-surat permohonan untuk proyek sampingannya di luar kantor. Pernah pula aku keluar kantor hanya untuk membayar tagihan-tagihan kartu kreditnya. Aku tahu aku berhak protes, tapi untuk sementara ini aku memilih diam sambil mengevaluasi sejauh mana ia bersikap tidak profesional.

“Ada acara sesudah jam kantor?”

Aku mengangkat kepalaku. Hari itu Irwan memakai dasi merah yang menyembul dari balik jas hitam konservatifnya. Ada yang sangat salah dengan dasi itu. Mungkin warnanya yang kelewat terang, sungguh tidak cocok dengan atmosfer kerja yang penuh warna-warna dingin.

Merah berhawa panas. Merah kadang menggumpal lengket dan tersangkut seperti permen karet. Merah menuntut pengakuan, peng-aku-an, tak bisa menunda, tak bisa luruh di saluran pembuangan.

“Saras?”

Aku menggeleng.

“Kalau begitu temani saya minum kopi.”

Jika bekerja untuk seseorang, kita akan terbiasa dengan kalimat imperatif.

Aku pun berusaha menerka makna lain di balik minum kopi. Yang ia maksud tentunya berada di ruangan ber-AC sambil menikmati kopi tak berampas dalam cangkir, bukan minum segelas kopi tubruk di warung. Yang ia maksud tentunya berada di kelas tertentu, dengan tujuan tertentu, menjalin relasi atau networking mungkin. Menarik sekali untuk perkembangan karierku, tapi mari kutegaskan lagi kalau aku tidak tertarik memperdalam relasi dengan laki-laki beristri.

Munafik.

Apakah ada konsekuensi logis jika aku menolak?

Ia menginginkan lelaki itu, tapi tak mau jadi orang pertama yang disalahkan.

“Dirut minta laporan khusus yang harus selesai besok,” katanya. “Ini pekerjaan ekstra buat saya, jadi saya harap kamu bisa membantu.”

Irwan seperti membaca keraguanku dan mencoba menekankan bahwa ajakannya bersifat rasional dan profesional, bukan sensual ataupun seksual. Setelah menimbang-nimbang, kuputuskan untuk pergi bersamanya.

Ah! Ah! Aku saudara yang berbagi hangat denganmu di tempat merah sempit itu. Aku tahu di sekolah menengah kau membaca buku porno murahan tentang sekretaris yang masuk ke ruangan bosnya tanpa celana dalam. Kau perempuan murah rekah

Ayo marah! Tidakkah kau impikan semua kebinatangan di balik rokmu yang beradab?

Maka, pergilah kami ke sebuah kafe yang memutar musik jazz tahun 50-an. Bernaung cahaya redup, kami duduk di sofa beludru merah yang begitu besar sehingga aku merasa bisa tenggelam di dalamnya. Jika tak ada kopi, mungkin aku akan mengantuk. Mengapa Irwan memilih tempat seperti ini untuk membicarakan proyek kantor?

Rumah bordil—

Kupu-kupu seperti aku memang senang remang-remang, bayang-bayang, halusinasi. Rumah meriah di dalam hutan segala serigala. Kau tak akan tahu apa pun sebelum masuk ke dalam.

Kami berbincang selama dua jam, espresso berganti capuccino. Setengah jam ia membahas laporan khususnya. Ella Fitzgerald masih merayu dengan suara emasnya, tapi aku menyimak dan mencatat seperti layaknya sekretaris profesional. Lantas kudengar ia bertanya,

“Kamu masih tinggal dengan orangtuamu?”

Aku tertegun, lalu kukatakan aku tinggal sendirian. Orangtuaku berada di luar kota dan aku anak tunggal. Ia bercerita bahwa ia juga begitu.

Kemudian dimulailah ritual yang berbahaya itu: cerita klise tentang perkawinan yang tidak bahagia. Bahwa istrinya sibuk mengejar ambisinya sendiri, bahwa tak ada anak yang mengikat kedekatan mereka.

Aku harus mengakhiri semua ini. Ia tengah mencari mangsa.

Aku juga. Adakah yang rela menyerahkan jiwa?

“Aku harus kembali ke rumah,” aku memutuskan.

Hari belum terlalu malam, tapi Irwan ingin mengantarku pulang. Kukatakan tidak perlu, tapi ia memaksa.

Oke, sampai di luar pagar.

Laki-laki itu tahu kau tinggal sendirian.

Kau dan aku memang makhluk-makhluk kesepian. Aku si pengisap penyedot kehidupan yang sekarat karena merah sudah nyaris habis punah berhenti titik.

Ia bertanya padaku apakah ia bisa ke kamar mandi. Jadi, aku biarkan ia masuk.

Masuklah, masuklah ke dalam pagar wahai para pencuri. Mari berlompat-lompatan, jangan mengendap-endap. Lihat apa yang bisa kau cicipi di kebun buah. Aku ikut karena aku juga pencuri, pencuri hidup dan mati, dan ’kan kujadikan kau

hantu.

Lalu ia duduk di kursi rotan konvensionalku, minum segelas air putih. Dibukanya satu kancing kemejanya dan dilonggarkannya dasinya — dasi yang benar-benar salah.

Lihatlah leher laki-laki itu. Sukakah kau pada es krim vanila? Kecap kebekuannya dengan lidahmu dan ia akan lumer dalam mulut.

Aku mendengarnya memanggil namaku. Ia seperti bergumam, tapi aku menangkap kata-kata terakhirnya,

“Sebetulnya kita sudah saling tahu apa yang terjadi.”

Aku gemetar. Tiba-tiba kusadari ketakutan terbesarku terjadi. Aku pernah membayangkannya dan karena aku sangat profesional aku tahu aku harus mendorongnya dengan tegas, mengusirnya bila perlu.

Tapi aku merasa ia semakin mendekatkan tubuhnya padaku. Aku bisa mencium minyak wangi bercampur aroma rokok yang menempel di rambutnya yang tercukur rapi. Aku seperti—

Tersedot?

Di pucuk es krim ada ceri bulat mengilat. Buah menggoda, menantang bahaya. Akankah aku jatuh? Tapi aku begitu menginginkannya. Aku si pengisap penyedot kehidupan.

Lehernya begitu indah. Dan aku begitu haus

Darah.

Jam 6.30 pagi. Ponsel berbunyi.

“Halo, Saras?” suara wanita di ujung sana. “Jangan lupa nanti ingatkan bosmu untuk rapat dengan klien jam 11. Ini berarti semua materi presentasi harus sudah siap. Dia sudah memintamu menyiapkannya, ’kan?”

“Ia tidak pergi kerja hari ini.”

Bacalah ia dari belakang dan kau akan menemukan aku. – Read on Path.

Nemu photo gw waktu SMA pas jadi MC sama si Echa. Hehehe – View on Path.

Timestamp: 1381731516

Nemu photo gw waktu SMA pas jadi MC sama si Echa. Hehehe – View on Path.

It’s me, on androgyny photoshoot

Manipulation effect photoshop + devianArt made by me

Timestamp: 1379422496

Manipulation effect photoshop + devianArt made by me

Thought via Path

Semalam gw sholat berjamaah. Sekarang, alamat di suruh jumaatan. Mampus gw – Read on Path.

Thought via Path

Sampai kosan juga. Capek bangwt. at Jalan Gading Raya,Rawamangun,Jakarta Timur – Read on Path.

Thought via Path

Otw JCC – Read on Path.

#androgyny #androgynous #instalike #instagram #instafollow #ingers #indonesia #instadaily #instacool #instagood #metropolite #model #male #me #fashion #fresh #follow4follow #followme #jeans #jakartacity #jakarta #jakartafashion #photograpy #photoofthecity #photoshoot

Timestamp: 1373344884

#androgyny #androgynous #instalike #instagram #instafollow #ingers #indonesia #instadaily #instacool #instagood #metropolite #model #male #me #fashion #fresh #follow4follow #followme #jeans #jakartacity #jakarta #jakartafashion #photograpy #photoofthecity #photoshoot

Leave me a comment pls. #jakartacity #jakarta #instalike #indonesian #instagram #instagramer #ingers #instadaily #instacool #instagood #indiboys #fashion #follow4follow #followme #model #models #photograpy #photoshoot #photooftheday #jakartafashion #androgyny #androgynous #amazing #asian #worldwide
#darylis

Timestamp: 1372967949

Leave me a comment pls. #jakartacity #jakarta #instalike #indonesian #instagram #instagramer #ingers #instadaily #instacool #instagood #indiboys #fashion #follow4follow #followme #model #models #photograpy #photoshoot #photooftheday #jakartafashion #androgyny #androgynous #amazing #asian #worldwide
#darylis

I’ve shared 213 memories with my friends on Path - see them now at path.com!

Timestamp: 1372931239

I’ve shared 213 memories with my friends on Path - see them now at path.com!

Night in the roof top

#instagramquote #instagramer #instaquote #picart

Timestamp: 1372133827

#instagramquote #instagramer #instaquote #picart

Me & Andrej Pejic – View on Path.

Timestamp: 1372130635

Me & Andrej Pejic – View on Path.

– View on Path.

Timestamp: 1372100692

– View on Path.